MENTORING
Lukas
6 : 39, 40 : Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka:
"Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke
dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa
yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya
1.
Ayat
39 – Murid (anak didik) akan
dibentuk seperti apa mentornya
2.
Ayat
40 – kedewasaan rohani anak didik ditentukan oleh
kedewasaan rohani Mentornya
kedewasaan rohani Mentornya
Tugas
Mentoring adalah membawa murid (anak didik) kepada pertumbuhan rohani, paling
tidak setara/setingkat dengan kerohanian
Mentornya
Yesus
adalah Mentor terbaik bagi 12 muridNya
12
murid Yesus belajar dari mendengar-melihat-mempraktekkan
pengalaman hidup bersama Yesus sehari-hari, bukan belajar di kelas.
Perbedaan
seorang Guru/Dosen dan Mentor
Guru : Menciptakan/mengumpulkan murid
Mentor :
Membentuk Murid
Yes
43 : 1 : Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai
Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: "Janganlah takut, sebab Aku
telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini
kepunyaan-Ku
Yakub diciptakan, tetapi
Israel dibentuk
Abram diciptakan, tetapi
Abraham dibentuk
Saulus diciptakan, tetapi
Paulus dibentuk
|
Prinsip
Rohani :
1.
Seorang
Mentor tidak bisa membentuk karakter anak didik (murid) melampaui karakternya
sendiri
2. Sejauhmana
hubungan pribadi Mentor dengan Tuhan dalam Doa dan Firman, sejauh itu juga
hubungan pribadi anak didik dengan Tuhan yang bisa dicapai.
3. Sejauhmana
iman seorang Mentor sejauh itu iman anak didik yang bisa dicapai.
Ketika
seorang murid mendahului mentornya , hal itu tidak berarti bahwa ia lebih
unggul (superior) daripada mentornya.
adalah
bahwa baik murid maupun mentornya akan bertumbuh hingga ketingkat kasih karunia
dan kedewasaan mereka didalam pelayanan.
Murid mendapatkan manfaat dari masukan mentornya yang mungkin mentornya
sendiri tidak mendapatkannya.
Ketika
seorang murid bertumbuh sampai ke tingkat kedewasaannya sendiri, ia tidak hanya
membawa posisinya sendiri tetapi juga sampai tingkat tertentu membawa posisi
mentornya.
Seorang
murid yang bertumbuh setelah diluar mentornya, akan berkembang sesuai dengan
tingkat panggilan dan kasih karunianya, bukan lagi menurut pelatihan dan
pementoran yang diterimanya.
Tetapi
bila seorang mentor tidak sungguh-sungguh mengejar pertumbuhan rohaninya
sementara muridnya mendahuluinya maka akan terjadi KONFLIK seperti kesalahpahaman, dianggap sesat/memberontak/sok
rohani, karena yang jadi ukuran nilai adalah standar Rohani Mentor itu sendiri.
Dalam
hal ini mentor tersebut justru menjadi batu
sandungan bagi pertumbuhan kerohanian muridnya, Jadi sangat penting
pengaruh kedewasaan rohani seorang mentor dalam pertumbuhan rohani anak
didiknya.
Sikap
seorang Mentor :
1. Dewasa
rohani – memperoleh kepercayaan (2 Tim 2 : 2)
2. Mengenal
Firman Tuhan – agar dapat memberi jawaban yang benar (Mzm 119 : 105)
3. Pembimbing/pendamping
– mengarahkan mana jalan yang benar (tidak tersesat) untuk mencapai
pertumbuhan rohani yang diinginkan (KPR 8: 30 – 38)
4. Menjadi
teladan – memiliki integritas dalam perkataan dan perbuatan (Yoh 13:15 ; I
Yoh 3: 18)
5. Sikap
tegas (bukan keras) – Kasih dan Disiplin harus seimbang (Ibr 12: 5-8)
6.
Memiliki hati Bapa (1 Kor 4 : 14-16)
|
Peran
Guru/Dosen dan Mentor
MENTOR
1.
Bersifat nonformal dan informal
2.
Tidak dibatasi waktu (24 jam)
3.
Mengajar dari pengalaman hidup sehari-hari
4.
Relationship/Komunikatif - saling membangun
5.
Bersifat keteladanan – (lisan) menghasilkan
perubahan gaya hidup yang benar
6.
Mengutamakan sikap hati
7.
Tempat – seluruh tempat
|
GURU/DOSEN
1.
Bersifat Formal
2.
Diatur oleh waktu (terbatas)
3.
Mengajar dengan Teoritis
4.
Pasif (sepihak) – guru mutlak benar
5.
Bersifat Akademis (Guru-murid,
atasan-bawahan, tuan-hamba) –
(tulisan) menghasilkan karya tulis
6.
Mengutamakan intelektual (pikiran).
7.
Tempat – ruang kelas
|
Mentor
adalah seorang pemberi
Seorang
mentor tidak berharap menerima apa-apa dari muridnya. Ia ada di sana untuk memberi dan menawarkan
apa yang ia miliki. Seorang mentor
memberikan keahlian, pengalaman dan kepemimpinannya. Ia memberikan waktunya, kesabarannya dan
pengetahuannya.
Seorang
mentor dapat memainkan banyak peran sebagai seorang pemberi, dia bisa menjadi
seorang Ayah, kakak, sahabat bagi murid yang membutuhkannya.
Mentor
adalah seorang pembentuk
Bil
27:15-23; Ul 34:9
Yosua
tidak memperoleh pendidikan, tetapi dia belajar dibentuk, dan dijadikan
pemimpin. Dia telah memperoleh roh yang
sama dengan Musa, karena belajar dari kehidupan Musa sebagai mentornya selama
40 tahun di padang gurun. Yosua telah
belajar dari mentornya Musa untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dimasa
lalu.
Didalam
pementoran, murid akan belajar untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan
yang pernah dilakukan oleh mentornya
|
Mentor
adalah bejana yang telah teruji dari Tuhan.
Ia telah melewati tahun-tahun pencobaan dan ujian di padang gurun Allah,
berhasil dan gagal, tetapi tetap utuh dan kuat karena Tuhan menyertai-Nya.
Mentor
harus mengimpartasikan hidupnya untuk membentuk dan menjadikan seorang murid
menjadi bejana yang mulia seperti mentornya.
Seorang
murid belajar dari kehidupan bersama mentornya, jadi seorang murid dibentuk
karena belajar dari kekuatan dan kelemahan mentornya.
Seorang
murid akan bertumbuh dengan sendirinya karena dapat meningkatkan dan memperluas
apa yang sudah dipelajari dan diterimanya dari mentornya.
Mentor
adalah seorang memiliki kapasitas hati
Mrk
10 :17-22
Hati
seorang anak muda yang kaya ini telah penuh oleh harta duniawi, sehingga tidak
mempunyai ruang lagi bagi Yesus, ketika ia meninggalkan Yesus, ia jauh lebih
frustrasi.
Kapasitas
hati kita bukanlah kemampuan kita untuk bertindak, tetapi kemampuan kita
untuk merangkul
|
Seorang
mentor harus memiliki kapasitas hati yang besar untuk merangkul apapun keadaan
muridnya. Tangannya terbuka lebar menyediakan waktu bagi
muridnya.
Untuk
meningkatkan kapasitas hatinya dalam merangkul, terlebih dahulu seorang mentor
harus dapat mengosongkan hatinya supaya ada tempat yang lebih banyak tersedia
bagi muridnya dan pelayanannya.
Seorang
mentor harus juga dapat membimbing murid-muridnya untuk mengosongkan hatinya
agar bersama-sama mereka dapat dibentuk
menjadi seorang murid Tuhan.
Mentor
dan para murid mengosongkan hatinya dengan cara :
·
Meninggalkan
jala penangkap ikan mereka (Mat 4:20)
·
Meninggalkan
keluarga mereka (Mrk 10 :28-30
·
Meninggalkan
pekerjaan mereka (Mat 9: 9).
Supaya
dapat mengikuti Yesus untuk dibentuk menjadi penjala manusia.
Mentor
adalah seorang pendamping (konselor)
Seringkali
murid mendapati dirinya berada dalam konflik pelayanan, ketika hal itu terjadi
mentor tidak terlibat secara pribadi didalam konflik tersebut. Ia bisa memberi nasehat dan dorongan kepada
muridnya, menuntun bagaimana cara mengatasi masalahnya, tetapi bukan
menghapuskan masalahnya.
Mentor
harus bersikap adil dan seimbang yaitu memiliki sikap Disiplin dan Kasih kepada muridnya (Ibr 12 : 5-8).
Seorang
murid yang bersalah tetap menerima ganjarannya dan seorang mentor harus
mendampinginya dengan kasih agar murid tersebut dapat
melewati disiplin yang diterimanya
dengan penghiburan yang dia peroleh dari mentornya.
Mentor adalah seorang teladan
Belajar dari teladan hidup
mentornya, sebagaimana Tuhan Yesus mendidik dan melatih murid-muridNya.
Seorang mentor dapat mentransformasikan
kehidupan kepada murid-muridnya (1 Tesalonika 2:8-12)
Pembentukan karakter Kristus
adalah tujuan dari pola mentoring ini.
Mentor
adalah seorang Bapa
Mat
28:18 -20
Sebelum
Yesus naik kesurga Dia memberikan warisan-Nya kepada murid-murid-Nya yakni
warisan dari segala otoritas disurga dan dibumi supaya mereka dapat melayani
dengan warisan itu yaitu melayani dengan otoritas dan wewenang dari Tuhan Yesus.
Seorang
pemimpin tidak mempunyai warisan untuk diberikan kepada pengikutnya, hanya
seorang bapa yang memiliki warisan untuk anaknya, jadi seorang murid adalah
anak yang menerima warisan dari mentornya.
|
Keterangan
: dilanjutkan dalam pelajaran Hati Bapa.